OPINI : Tenggang Rasa Terhadap Kasus KDRT

Devi Hartati, S.Tr.Keb Mahasiswa Program Studi Kebidanan Program Magister Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Majalahpost.com – Keluarga yang merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat yang memegang peranan sangat penting dalam mempengaruhi perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Sebuah keluarga dikatakan harmonis apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia, hal tersebut dapat diketahui dengan tidak adanya konflik, ketegangan, kekecewaan dan kekerasan terhadap keadaan fisik, psikis, emosional dan sosial seluruh anggota keluarga.

Terjadinya kekerasan dalam rumah tangga berupa perbuatan terhadap seseorang, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga berupa kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan kekerasan penelantaran rumah tangga, yang merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi.

Berdasarkan Data Kementrian Perlindungan Perempuan dan Anak (2022) di Indonesia menunjukkan adaya kekerasan seksual sebanyak 2.228 kasus, dan kekerasan psikis 2.083 kasus. Sedangkan data dari lembaga layanan didominasi oleh kekerasan dalam bentuk fisik sebanyak 6.001 kasus, dengan kekerasan seksual 4102 kasus. Dapat diketahui dengan jelas bahwa pada data pengaduan Komnas Perempuan di ranah publik, kekerasan seksual selalu yang tertinggi yaitu 1.127 kasus, sementara di ranah personal berupa kekerasan psikis sebanyak 1.494 kasus. Kemudian sebagaimana diatur dalam pasal 28G Undang-Undang Dasar Tahun 1945 mengatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.

Selain pemerintah yang mempunyai kewajiban penanggulangan kekerasan dalam rumah tangga, masyarakat juga mempunyai peran dan kewajiban dalam penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 15 UU KDRT, bahwa bagi setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya mencegah kekerasan dalam rumah tangga, memberikan perlindungan kepada korban, memberikan pertolongan darurat, dan mengajukan proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan.

Diketahui pula bahwa pada saat ini, sangat sulit bagi korban KDRT untuk menceritakan atau menjelaskan penderitaan mereka kepada penegak hukum dikarenakan sebagian besar korban percaya bahwa apa yang terjadi di rumah termasuk perlakuan kekerasan terhadap suaminya merupakan bagian dari privasi mereka. Setiap kekerasan yang dialami tampaknya telah menimbulkan efek traumatis yang sangat parah bagi perempuan. Sebagian besar korban mengalami kecemasan, stres, depresi, trauma dan menyalahkan diri sendiri. Sedangkan dampak dari fisiknya berupa memar, patah tulang, kerusakan bagian tubuh bahkan kematian. Walaupun perempuan menjadi korban kekerasan, biasanya mereka bertahan hidup. Hal ini karena wanita terancam, tidak ada rasa aman, takut masyarakat akan mencela karena dianggap aib, alasan karena kepentingan anak, dan alasan untuk mempertahankan pernikahan.

Dalam hukum Islam, perkawinan memiliki beberapa tujuan untuk memenuhi tuntunan naluri manusia yang asasi, membentuk akhlak yang luhur, mengakan rumah tangga yang islami, meningkatkan ibadah kita kepada Allah, dan mencari keturunan yang shalih. Seperti yang telah disebutkan, setiap pasangan suami istri bermimpi untuk menciptakan keluarga yang harmonis, bahagia, dan penuh kasih sayang. Namun kenyataannya, banyak keluarga yang tidak harmonis menjadi tertekan dan sedih karena kekerasan dalam rumah tangga baik kekerasan yang bersifat fisik, psikologis, seksual, emosional, maupun penelantaran keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, baik itu secara perseorangan maupun secara kelompok. Terlebih lagi dalam kemajuan teknologi informasi yang kerap berujung pada kekerasan tercermin dari media yang tidak bisa difilter karena berdampak negatif terhadap kenyamanan rumah tangga.

Terjadinya ketegangan, kekecewaan, dan kekerasan dalam keluarga menjadi penyebab utama terjadinya konflik. Jika masalah diselesaikan dengan benar dan sehat, setiap anggota keluarga akan mendapat pelajaran berharga, yaitu pengertian oleh semua orang, pengendalian perasaan, kepribadian dan emosi anggota keluarga lainnya sehingga terwujud kebahagiaan dalam keluarga. Namun, ketika masalah tersebut ditangani dengan cara yang emosional dan tidak sehat, hal itu mengarah pada kekerasan dan pelecehan atau diskriminasi terhadap anggota keluarga.(Opini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Anda tidak punya izin copy..!!