OPINI: Kekerasan Verbal Dalam Rumah Tangga

Silviatul Amalia, S.Keb., Bdn Mahasiswa Program Studi Kebidanan Program Magister, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Majalahpost.com – Rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang menyediakan ketentraman (sakinah) bagi setiap orang. Namun ada prilaku kekerasan yang sering kali menimbulkan kesengsaraan atau penderitaan. Secara global sekitar 1 dari 3 (30%) wanita di seluruh dunia telah mengalami kekerasan fisik atau seksual pasangan intim atau kekerasan seksual non-pasangan dalam hidup mereka.

Kata kekerasan dalam istilah KDRT seringkali dipahami masyarakat umum terbatas pada kekerasan fisik. Padahal menurut Kourti et al., 2021 bentuk kekerasan dalam KDRT itu bermacam-macam diantaranya adalah: fisik, seksual, psikologis dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Fenomena kekerasan Psikologi (verbal) telah terjadi di berbagai ranah kehidupan khususnya dalam rumah tangga menimbulkan permasalahan yang sangat mengkhawatirkan karena dapat memberikan dampak psikologis pada orang yang mengalaminya. Kekerasan verbal yang menjadi rutinitas tanpa disadari membuat korbannya mengalami depresi yang berkelanjutan, sehingga tidak sedikit korban kekerasan verbal ini lebih memilih berpisah dengan pasangannya karena menerima perkataan yang tidak baik dari pasangannya.

Kekerasan verbal rata-rata dialami oleh wanita dan khususnya para istri. Kekerasan ini sering dilakukan oleh para suami yang menganggap dirinya seolah-olah punya wewenang penuh untuk melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada istrinya selaku kepala keluarga. Adapun kekerasan verbal yang ditemui di Praktik Pemberdayaan Praktek Kebidanan oleh mahasiswa Program Studi Kebidanan Program Magister Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta terjadi karena suaminya cemburuan seperti yang dialami oleh ibu R, yang bekerja bisnis baju ekspor tetapi suaminya merasa dengan teman bisnis istrinya sehingga suami sering berkata kasar. Peristiwa tersebut sering berdampak psikis berat bagi pihak istri dengan merasa terpukul, kecewa bahkan hingga patah hati. Fenomena kekerasan verbal merupakan kekerasan dalam bentuk kata atau kalimat, sehingga sering tidak disadari karena tidak bersifat langsung, karenanya kekerasan verbal menjadi cenderung diabaikan. Kekerasan verbal ini tidak semata-mata bisa disembuhkan dengan hanya mengolesakan obat seperti kekersan fisik. Trauma yang ditimbulkan dari kekerasan verbal bisa melekat seumur hidup pada korbannya Perlindungan hukum terhadap korban kekerasan verbal yaitu dengan memberikan sanksi pidana bagi para pelaku berdasarkan Pasal 45 Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu dalam Pasal 5 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp 9 juta dan apabila tindakan tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp 3 jt.

Upaya pemerintah dalam menangani hal tersebut yaitu dengan pembentukan Mitra Keluarga yang merupakan lembaga sosial yang dibentuk oleh Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Pokja 1 TP PKK Kota Yogyakarta di setiap Kemantren di Kota Yogyakarta. Masyarakat dapat mengakses pendampingan dalam mencari solusi atas permasalahan melalui konsultasi maupun rujukan baik di bidang keluarga, kesehatan, pendidikan, kejiwaan (psikologi), sosial, hukum dan ekonomi. Selain itu juga dengan Satuan Tugas Siap Gerak Atasi Kekerasan (Sigrak) sebagai upaya penanganan dan deteksi dini terhadap kekerasan anak dan perempuan yang berbasis masyarakat. Diharapkan dengan kehadiran Mitra Keluarga merupakan salah satu strategi untuk mengantisipasi kasus kekerasan dan diharapkan mampu memberi solusi dalam penyelesaian masalah baik melalui konseling maupun proses rujukan.

Masyarakat masih memiliki pengetahun yang minim tentang kekerasan verbal. Masih banyak yang berfikir bahwa kekerasan hanya sebatas kekerasan terhadap fisik semata. Selain itu, masih terdapat masyarakat yang masih menyepelekan dampak dari kekerasan verbal tersebut. Diharapkan dengan terbentuknya SIGRAK dan mitra keluarga dapat mendeteksi dini dan mengantisipasi kasus kekerasan serta diharapkan mampu memberi solusi dalam penyelesaian masalah baik melalui konseling maupun proses rujukan.(Opini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Anda tidak punya izin copy..!!