OPINI: KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PEREMPUAN

Majalahpost.com – Melihat semakin maraknya kejadian kekerasan dalam rumah tangga terutama yang dialami oleh perempuan. Yang mana kebanyakan orang menganggap bahwa perempuan adalah wanita lemah, dimana itu memicu perempuan diberlakukan semena-mena. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mencakup berbagai tindakan kekerasan fisik, seksual, dan emosional, meskipun biasanya disebut kekerasan pasangan intim, sebagian besar antara pasangan pria dan wanita, itu juga dapat mencakup pelecehan anak, orang tua, atau saudara kandung.

Dimana perilaku kekerasan atau tindak kekerasan merupakan ungkapan perasaan dengan melakukan tindakan yang keliru karena hilangnya kontrol diri akibat adanya stresor yang menjadi permasalahan secara fisik maupun psikologis yang mengakibatkan bahaya terhadap diri sendiri, individu lain maupun lingkungan. Sebagaimana biasanya pasangan yang terlalu posesif, terlalu mengekang, selalu menaruh curiga, selalu mengatur apapun yang dilakukan, termasuk juga mudah marah dan suka mengancam.

Adapun hal ini sesuai dengan kasus yang ditemui saat dilakukan Praktik Pemberdayaan Oleh Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta di Desa X pada Ny. W yang mana pada kasus tersebut terjadi kekerasan fisik yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Dikarenakan sang suami memiliki sifat tempramental dan pencemburuan yang menyebabkan Ny. W sering mengalamai kekerasan fisik berupa luka lebam di dahinya akibat dibenturkan kepalanya pada bagian keras yang ada di mobil.

Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Sanksi pidana bagi pelaku KDRT sudah diatur dalam UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Yang dimana tercantum Pasal 44 Ayat (1) UU PKDRT Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15 jt.
Upaya Pemerintahan dalam mengatasi kekerasan dalam rumah tangga yang dialami Ny. W antara lain melalui Mitra Keluarga, dan Satuan Tugas Siap Gerak Atasi Kekerasan (SIGRAK). Kehadiran Mitra Keluarga adalah salah satu strategi untuk mengantisipasi kasus kekerasan dan diharapkan mampu memberi solusi dalam penyelesaian masalah baik melalui konseling maupun proses rujukan. Sedangkan Program Mitra Keluarga bertujuan untuk memberikan dukungan dan pendampingan bagi keluarga dalam memperoleh kesehatan dan kesejahteraan yang optimal. Satuan Tugas Siap Gerak Atasi Kekerasan (SIGRAK) sebagai upaya penanganan dan deteksi dini terhadap kekerasan anak dan perempuan yang berbasis masyarakat.(Opini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Anda tidak punya izin copy..!!