BS Geger Lagi! IRT di Pino Raya Ditemukan Tewas Gantung Diri di Pondok Kebun Sawit

BENGKULU SELATAN | Majalahpost.com – Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) di Desa Cinto Mandi, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan, digegerkan dengan adanya penemuan mayat gantung diri di pondok kebun kelapa sawit, pada Senin (21/08/23) sekira pukul 09.10 WIB.

Setelah menemukan ibunya yakni Yasmi (45) gantung diri, kemudian pada pukul 15.45 WIB jenasahnya langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum desa setempat.

Adapun kronologi kejadian, berawal saat almarhumah bersama dengan suaminya, Irman (50) dan anaknya pergi ke kebun kelapa sawit mereka. Sesampainya di pondok kebun, sang suami, Irman langsung memanen buah sawit. Sedangkan sang istri beristirahat di pondok di kebun tersebut.

Lalu, sang anak, pamit pulang ke rumah untuk mengambil barang yang masih ada tertinggal di rumah, lupa dibawa saat berangkat. Hanya saja, saat sang anak tiba kembali ke pondok di kebun, ai kaget melihat ibunya sudah tergantung di pondok dengan leher terikat tali keranjang.

Melihat kondisi ibunya tergantung tersebut, Randi langsung berupaya melepas lilitan di leher ibunya itu. Pada saat itu, ibunya masih hidup. Kemudian, Randi berteriak memanggil ayahnya agar meminta bantuan warga untuk membawa sang ibu ke Puskesmas Pagar Gading.

Dari Puskesmas itu, korban dirujuk ke RS Hasanudin Damrah Manna. Namun tuhan berkehendak lain, saat dalam perawatan, sang ibu dinyatakan meninggal dunia oleh petugas kesehatan. Setelah itu, jenasah sang ibu di bawah pulang ke rumah duka oleh keluarga untuk disemayamkan. Lalu sorenya di bumikan di TPU desa setempat.

Kapolres Bengkulu Selatan, AKBP Florentus Situngkir S.IK MH melalui Kapolsek Pino Raya, Iptu Agus Apriwinata MH didampingi Kanit Reskrim, Aiptu Adi Wijaya SH membenarkan adanya peristiwa warga gantung diri di wilayahnya itu.

“Dari keterangan keluarga korban, tidak ada permasalahan sebelum kejadian itu,” ujarnya.

Pihak keluarga meminta kepolisian tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut dan menganggap apa yang menimpa mereka sebagai musibah. Hal itu dibuktikan, dengan surat pernyataan pihak keluarga yang ditandatangani di atas meterai menolak dilakukan otopsi terhadap jenasah almarhum. (MP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Anda tidak punya izin copy..!!